Ringkasan Cerita Dan Nilai-nilai Yadnya Dalam Cerita Ramayana

  1. Ringkasan Cerita Ramayana
    Kitab Ramayana adalah hasil karya besar dari Maharsi Valmiki. Menurut hasil penelitian yang telah di lakukan menyatakan bahwa Ramayana tersusun atas 24.000 stansa yang di bagi atas 7 bagian, yang setiap bagiannya di sebut kanda. Cerita Ramayana dalam sari patinya mengandung nilai-nilai pendidikan tentang moral dan etika atau tentang nilai-nilai kebenaran yang bersifat kekal dan abadi.
    Sumber asli dalam kekawin Ramayana  itu adalah kitab Ravana vadha karangan Bhatti, 9 kitab ini sering disebutBhattikavya. Adapun isi singkat dari tiap-tiap kanda dari kitab Ramayana dapat diuraikan sebagai berikut :
Hanoman, Dusshera, Navami, Diwali
  1. Bala Kanda
    Di negeri Kosala dengan ibukotanya Ayodhya yang diperintah oleh raja Dasaratha. Ia  memiliki tiga orang istri. Kausalya berputra Rama sebagai anak tertua, Kaikeyi  berputra Bharata, danSumitra berputra Laksamana dan Satrughna. Dalam sayembara di Wideha, Rama berhasil memperoleh Sita putri raja Janaka sebagai istrinya.
  2. Ayodhya Kanda
    Dasaratha  merasa sudah tua, maka ia hendak menyerahkan mahkotanya kepada Rama. Datanglah Kaikeyi yang memperingatkan bahwa ia masih berhak atas 2 permintaan yang mesti dikabulkan oleh raja Dasaratha. Maka permintaan Kaikeyi yang pertama ialah supaya bukan Rama melainkan Bharata yang menjadi raja menggantikan Dasaratha. Permintaan kedua ialah supaya Rama dibuang ke hutan selama 14 tahun.
    Demikianlah Rama, Laksamana, dan Sita istrinya meninggalkan Ayodhya. Tak lama kemudian Dasaratha meninggal dan Bharata menolak untuk dinobatkan menjadi raja. Ia pergi kehutan mencari Rama. Bagaimanapun ia membujuk kkakaknya. Rama tetap pendiriannya untuk mengembara terus sampai 14 tahun. Pulanglah Bharata ke Ayodhya dengan membawa terompah Rama. Terompah inilah yang ia letakkan diatas singgasana, sebagai lambang bagi  Rama yang seharusnya menjadi raja yang sah. Ia sendiri memerintah atas nama Rama.
  3. Aranyaka Kanda
    Di dalam hutan Rama berkali-kali membantu para petapa yang tidak habis-habisnya diganggu oleh raksasa. Suatu ketika ia berjumpa dengan raksasa perempuan. Suapanaka namanya, ia jatuh cinta padanya. Oleh Laksamana raksasa ini dipotong telingadan hidungnya. Kemudian ia melaporkan peristiwa ini kepada kakaknya Ravana, seorang raja raksasa berkepala sepuluh dan memerintah di Alengka. Diceritakan pula kecantikan istri rama.
  4. Kiskindha Kanda
Rama berjumpa dengan Surgiva, seorang raja kera yang kerajaan serta istrinya direbut oleh saudaranya sendiri yang bernama Walin. Rama bersekutu dengan Surgiva untuk memperoleh kerajaan dan istrinya dan sebaliknya Surgiva akan membantu Rama untuk mendapatkan Sita dari negeri Alengka.Khiskinda di gempur. Walin terbunuh oleh panah Rama. Surgiva kembali menjadi raja Khiskinda dan Anggada, anak Walin dijadikan putra mahkota. Tentara kera berangkat ke Alengka. Ditepi pantai selat yang memisahkan Alengka dari daratan India, tentara itu berhenti. Dicarilah akal untuk menyebrangi lautan.
  1. Sundara Kanda
    Hanuman, kera kepercayaan Surgiva, mendaki gunung Mahendra untuk melompat ke negeri Alengka. Akhinya ia dapat pula menemukan Sita. Kepada Sita dijelaskan bahwa tak lama lagiRama akan datang menjemput. Hanuman ditahan oleh tentara Alengka. Ia diikat erat-erat dan kemudian dibakar. Ia meloncat ke atas rumah dengan ekornya yang menyala menimbulkan kebakaran di kota Lengka. Kemudian Hanuman melompat kembali menghadap Rama untuk laporan.
  2. Yudha Kanda
    Dengan bantuan Dewa Laut tentara kera berhasil membuat jembatan ke Lengka. Ravana yang mengetahui bahwa negaranya terancam musuh menyusun pertahanannya. Adiknya, Wibisana menasehatkan untuk mengembalikan Sita kepada Rama dan tidak usah berperang. Rawana bukan main marahnya. Adiknya itu diusir dari Alengka dan menggabungkan diri dengan Rama.
    Setelah itu terjadilah pertempuran yang sangat sengit, setelah Indrajit dan Kumbakarna gugur, Ravana terjun ke dalam kancah peperangan. Setelah peperangan selesai Wibhisana adik Ravana yang memihak Rama diangkat menjdi raja di negeri Lengka serta Sita kembali pada Rama.
    Rama tidak mau menerima kembali istrinya, karena sudah sekian lama tinggal di Alengka dan tidak mungkin masih suci. Kemudian Sita menyuruh para abdinya membuat api unggun. Kemudian ia terjun ke api. Nampaknya Dewa Agni didalam api menyerahkan Sita pada Rama. Rama menjelaskan, bahwa ia sama sekali tidak sanksi dengan kesucian Sita, akan tetapi sebagai permaisuri kesuciannya harus terbukti didepan raknyatnya. Diiringi oleh tentara kera Rama beserta istri dan adiknya kembali ke Ayodhya. Mereka disambut oleh Bharata yang segera mengembalikan tahtanya kepada Rama.
  3. Uttara Kanda                                                                                                                           Dalam bagian ini diceritakan bahwa kepada Rama terdengar desas desus bahwa rakyat menyangsingkan kesucian Sita. Maka untuk memberi contoh yang sempurna kepada rakyat diusirlah Sita dari istana. Tibalah Sita dipertapaan Valmiki, yang kemudian merubah riwayat Sita itu wiracerita Ramayana. Dipertapaan itu Sita melahirkan dua anak laki-laki kembar, Kusa dan Lava. Kedua anak ini dibesarkan oleh Valmiki. Waktu Rama mengadakan Aswamedha, Kusa dan Lava hadir di istana. Segeralah Rama mengetahui, bahwa laki-laki itu adalah anaknya sendiri. Maka dipanggilah Valmiki untuk mengantarkan kembali Sita ke Istana.Setiba di istana, Sita bersumpah, janganlah hendaknya raganya diterima di bumi seandainya ia memang tidak suci. Seketika itu belahlah dan muncul Dewi Pertiwi diatas singgasana emas yang didukung oleh ular-ular naga. Sita dipeluknya dan dibawanya lenyap ke dalam bumi. Rama sangat sedih dan menyesal, tetapi tidak dapat memperoleh istrinya kembali. Ia menyerahkan mahkotanya kepada kedua anaknya, dan kembali ia ke khayangan sebagai Visnu.

Nilai-nilai Yajńa dalam Cerita Ramayana
1. Dewa Yajña
Dewa Yajña adalah Yajña yang dipersembahkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa beserta seluruh manifestasinya. Dalam cerita Rāmāyana banyak terurai hakikat Dewa Yajña dalam perjalanan kisahnya. Seperti pelaksanaan Homa Yajña yang dilaksanakan oleh Prabu Daśaratha. Upacara ini dimaknai sebagai upaya penyucian melalui perantara Dewa Agni.
Dari beberapa uraian singkat cerita Rāmāyana tersebut tampak jelas bahwa sujud bakti ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa merupakan suatu keharusan bagi makhluk hidup terlebih lagi umat manusia. Keagungan Yajña dalam bentuk persembahan bukan diukur dari besar dan megahnya bentuk upacara, tetapi yang paling penting adalah kesucian dan ketulusikhlasan dari orang-orang yang terlibat melakukan Yajña.
2. Pitra Yajña
Upacara ini bertujuan untuk menghormati dan memuja leluhur. Seperti apa yang diuraikan dalam kisah kepahlawanan Rāmāyana, dimana Śrī Rāmā sebagai tokoh utama dengan segenap kebijaksanaan, kepintaran dan kegagahannya tetap menunjukkan rasa bakti yang tinggi terhadap orang tuanya.
Nilai Pitra Yajña yang termuat dalam epos Rāmāyana terdapat pada Kekawin Rāmāyana Trĕyas Sarggah bait 9 demi memenuhi janji orang tuanya (Raja Daśaratha), Śrī Rāmā, Lakṣmaṇa dan Dewi Sītā mau menerima perintah dari sang Raja Daśaratha untuk pergi hidup di hutan meninggalkan kekuasaanya sebagai raja di Ayodhyā.
Dari kisah ini tentu dapat dipetik suatu hakikat nilai yang sangat istimewa bagaimana bakti seorang anak terhadap orang tuanya. Betapapun kuat, pintar dan gagahnya seorang anak hendaknya selalu mampu menunjukkan sujud baktinya kepada orang tua atas jasanya telah memelihara dan menghidupi anak tersebut.
3. Manusa Yajña
Dalam rumusan kitab suci Veda dan sastra Hindu lainnya, Manusa Yajña atau Nara Yajña itu adalah memberi makan pada masyarakat  dan melayani tamu dalam upacara. Namun dalam penerapannya di Bali, upacara Manusa Yajña tergolong Sarira Samskara. Inti Sarira Samskara adalah peningkatan kualitas manusia.
Pada cerita Rāmāyana juga tampak jelas bagaimana nilai Manusa Yajña yang termuat di dalam uraian kisahnya. Hal ini dapat dilihat pada kisah yang meceritakan upacara Śrī Rāmā mempersunting Dewi Sītā. Selayaknya suatu pernikahan suci, upacara ini dilaksanakan dengan Yajña yang lengkap dipimpin oleh seorang purohita raja dan disaksikan oleh para Dewa, kerabat kerajaan beserta para Mahaṛsī.
4. Ṛsī Yajña
Ṛsī Yajña itu adalah menghormati dan memuja Ṛsī atau pendeta. Pada kisah Rāmāyana, nilai-nilai Ṛsī Yajña dapat dijumpai pada beberapa bagian dimana para tokoh dalam alur ceritanya sangat menghormati para Ṛsī sebagai pemimpin keagamaan, penasehat kerajaan, dan guru kerohanian.
Keberadaan beliau tentu sangat penting dalam kehidupan umat beragama. Sudah sepatutnya sebagai umat beragama senantiasa sujud bakti kepada para Mahaṛsī atau pendeta sabagai salah satu bentuk Yajña yang utama dalam ajaran agama Hindu. Oleh karena itu banyak sekali hakikat Yajña yang dapat dipetik untuk dijadikan pelajaran dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.
5. Bhuta Yajña
Upacara ini lebih diarahkan pada tujuan untuk nyomia butha kala atau berbagai kekuatan negatif yang dipandang dapat mengganggu kehidupan manusia. Bhuta Yajña adalah usaha untuk memelihara kesejahteraan dan keseimbangan alam.
Nilai-nilai Bhuta Yajña juga nampak jelas pada uraian kisah epos Rāmāyana, hal ini dapat dilihat pada pelaksanaan Homa Yajña sebagai Yajña yang utama juga diiringi dengan ritual Bhuta Yajña untuk menetralisir kekuatan negatif sehingga alam lingkungan menjadi sejahtera.

1 thought on “Ringkasan Cerita Dan Nilai-nilai Yadnya Dalam Cerita Ramayana”

Leave a Comment